Cowok-Cowok Penggosip oleh Mumu Aloha

Disclaimer: Semua nama tempat, orang, dan peristiwa asli telah diubah atau disingkat demi melindungi pihak yang tidak bersalah, yaitu aku.

PROLOG

Dari jauh aku sudah melihatnya. Tapi, saya tidak yakin. Benarkah itu H? Apakah dia tidak terlalu sophisticated untuk kolam renang kelas tiga seperti itu. Dan, oh, aku bahkan sepertinya juga mengenali siapa cowok yang bersamanya? Tapi, kalau yang pertama kulihat saja tak bisa kuyakini, bagaimana dengan penampakan kedua itu? Benarkah G telah kembali ke Jakarta, dan siap merebut perhatian orang-orang di sekitar kita, dan seperti biasa, menjadi pemenangnya, sebagai pihak yang pulang membawa piala? Well, kalian akan tahu maksudku. Sekarang biarkan aku, untuk sementara, pura-pura tidak menyadari keberadaan mereka—kalau memang mereka benar orang-orang yang aku kenal. Masalahnya, areal kolam renang ini cukup luas, dan sore belum begitu tua sehingga matahari masih bisa menyilaukan pandangan jarak jauhmu. Aku akan jauh lebih senang jika kenyataannya aku hanya salah orang. Kadang-kadang hal terbaik adalah berada di suatu tempat di mana tak seorang pun mengenalmu. Menjadi orang asing, di tempat yang tidak asing, itu indah. Tapi sore itu, keindahan yang paling sederhana sekali pun rupanya tidak berpihak kepadaku. Belum lagi aku memulai luncuran pertamaku di atas permukaan kolam yang biru, orang yang (tak) kuyakini sebagai H itu melangkah ke arahku, dan dari senyum yang ditebarnya sejak di kejauhan, aku tahu dia menghampiriku. “Jadi spotnya di sini juga tho ternyata. Nggak nyangka, seorang….” Dia menyebut nama asliku, nama lengkapku, yang sangat Jawa. Aku tertawa. Lebih tepatnya mungkin tersipu-sipu. “Gabung yuk, tuh ada… juga!” Oh jadi benar, G telah kembali. Skandal apalagi yang akan terjadi? Apakah dia akan menjadi Serena, yang kembali setelah diusir dari sekolah asrama, dan akan kembali mendapat simpati guru-guru kita, membuat iri karena memakai baju-baju dan celana yang tak muat di tubuh kita, berhubungan seks dengan pacar kita atau mencuri hati orang-orang yang sedang kita dekati? Bahkan, begitu H tadi memastikan bahwa cowok yang bersamanya itu G, aku sudah punya feeling, sesuatu akan segera terjadi, di sini. Aku akan mengamatinya dengan seksama. Sore ini pasti akan seru, dan well, sedikit liar.

***

Setelah aku bergabung dengan mereka, aku duduk ngobrol bersama G di tribun semen di sisi kolam renang, sementara H sudah kembali masuk ke air, namun tidak berenang dan hanya berdiri-berdiri saja di tepian sambil ngobrol dengan seseorang.

“Yang ngobrol sama H itu siapa?” tanyaku.

G menyebutkan sebuah nama—aku tak merasa familier. Belakangan aku ingat, dia ada di friend lists Facebook-ku.

Rupanya mereka datang bertiga.

“Sudah berapa lama balik ke sini?” tanyaku menyambung percakapan.

“Udah dua minggu.”

Rupanya aku ketinggalan berita penting. Dua minggu. Dia pasti sudah bergentayangan ke pusat-pusat keramaian ibukota, dan dengan tubuhnya yang semampai (dan tambah tinggi oleh model rambutnya yang mencuat), wajahnya yang manis dan penampilannya yang “chic” menjadi penampakan bagi pria-pria pulang kerja yang berseliweran di Grand Indonesia menjelang jam makan malam.

Dan, sekarang, siapa yang sangka, dia menjadi penampakan di kolam renang ini, dan membuat nyaris seluruh perhatian orang menjadi hanya tertuju kepadanya. Dia sendiri tampak cuek, tapi diam-diam menikmati. Dan, ketika ada penampakan lain yang melintas di depan kami, dia langsung bersuit-suit menggoda. Awalnya, si penampakan asing itu—seusia G juga, langsing, putih, dengan boxer merah—berlalu begitu saja dengan cueknya. Tapi, ketika aku dan G akhirnya nyemplung ke air, si boxer merah yang ternyata cakep juga itu tak bisa menyembunyikan gelagatnya yang mudah dibaca sebagai ungkapan kegatelan yang tak tertahankan untuk bisa kenalan dengan G. Terang saja, itu semakin membuat G jual mahal dan sok-cuek.

“Mumu mau kenalan?” G malah melemparkannya ke aku.

“Enak aja, emangnya gue cowok apaan?” sahutku.

Aku dah G berenang dari satu ujung ke ujung lain, dan si boxer merah terus saja mengikuti dan berusaha menarik perhatian G. Ketika kamu kembali bergabung dengan H dan J, si boxer merah juga mengikuti dan terus saja nempel, dan semakin tanpa malu-malu menunjukkan ekspresi muka yang mengatakan, “Hei, sapa gue dong!”

H dan J berbisik-bisik, “Ih jelong bok,” kata J.

“Sekilas cakep sih, tapi senyumnya bikin ilfil,” tambah H.

Memang, si boxer merah itu memiliki gigi yang buruk, yang membuat ketampanannya menjadi cacat ketika dia tersenyum atau tertawa. Tapi, ketika itu dibahas, aku justru menemukan sisi lain darinya, bahwa dia bisa dibilang mirip Edward Cullen—dan begitu menyadari itu, aku pun menyebutnya dengan nama itu. H dan J langsung ngakak. “Plis deh!” seolah-olah itulah yang ingin mereka katakan untuk mengomentari penilaianku, yang kuakui, memang rada lebay.

Lama-lama H tak tahan juga melihat si Edward bergigi bikin ilfil yang terus saja menggeliat-nggeliat pengen kenalan dengan G. “Hai, kalau mau kenalan, langsung aja, jangan cuma liat-liatan dan senyum-senyum aja, tar capek lho mata dan bibirnya….”

G sendiri akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa jual mahalnya, dan kemudian mengajak Edward Cullen ngobrol.

Aku ngobrol sama H dan J.

J ini adalah marketing manager sebuah kedai mie ekslusif milik seorang pakar kuliner Indonesia terkenal. Sedangkan H adalah kawan lamaku di Q! Film Festival, ketika aku masih aktif. Sudah lama juga nggak ketemu dia. Tiba-tiba, H dan J saling pandang, dan berbisik-bisik, membicarakan sepasang cowok yang sedang melintas di seberang kolam.

“Itu orang yang merebut mantanku. Waktu itu mereka nikah di P,” H menyebut nama sebuah tempat makan mahal bernuansa Jawa di bilangan Kemang. “Dan, sekarang ternyata sama cowok lain,” lanjut dia.

Dan, sepanjang senja itu, terus saja bermunculan berbagai penampakan yang tiada habisnya untuk dibicarakan. Aku juga melihat sesosok anak muda berwajah keras dan berbadan kekar, yang beberapa malam sebelumnya kulihat dibawa oleh bule teman sekantor temanku di acara pembukaan sebuah club dan resto baru di salah satu mall yang sedang happening di Jakarta.

Aku menatap nanar ke permukaan air yang berkilau-kilau. Kolam renang dengan harga tiket masuk Rp 10 ribu ini, ternyata menyimpan cerita-cerita yang melintasi batas-batas kelas.

“Trus apa rencanamu dengan balik ke Jakarta?” tanyaku ketika G kembali bercanda dengan kami.

“Ya, nyari kerjaan. Untuk sementara ini, akan ada syuting film di Kalimantan. Aku baru saja di-casting.”

Aku ingat, G kembali ke Yogyakarta setelah resign dari posisinya sebagai staf pi-ar di sebuah majalah gratis berbahasa Inggris untuk kalangan ekspatriat. Dia terpaksa keluar dari pekerjaan yang belum lama didapatkannya itu karena tak tahan dengan salah satu atasannya yang mengejar-ngejar dia. Atasannya ini cowok, tentu saja. Tapi, G menolak dan itu membuat si atasan jadi psiko. Suatu pagi, dia menteror G dengan menaruh kondom bekas pakai di tempat sampah di dekat meja kerja G. Pada saat yang lain, si atasan itu memamerkan tagihan hotel yang habis dia pakai untuk bercinta dengan brondong. Maksudnya tentu, untuk memanas-manasi G, tapi semua itu tak mempan. Sampai akhirnya G memutuskan untuk cabut, dan pulang ke kampung halamannya. Di Jogja, G sempat mengurus usaha milik kakaknya. Tapi, sejak awal dia tahu, itu tak akan bertahan lama. Jogja terlalu kecil dan sunyi untuk menampung aspirasi hasratnya yang meledak-ledak.

“Udah tukeran nomer telepon?” tanya J kepada G ketika kami meninggalkan kolam renang itu. Tentu, maksudnya tukeran nomer telepon dengan Edward Cullen.

“Udin, Cin!” sahut G kemayu, penuh arti.

Hanya dia yang tahu apa yang terjadi setelah hari itu.

XOXO

***

EPILOG

Lalu J dengan penuh semangat membahas penampakan-penampakan di kolam renang, yang tadi menarik perhatiannya. Seorang satpam di areal parkir mobil mendengarnya, geleng-geleng kepala, berdecak-decak antara geli dan jijik.

Dan aku menyaksikan semuanya, karena aku berdiri di semua tempat, baik di dunia yang dipijak oleh G, H dan J maupun oleh si satpam. Demi ilmu pengetahuan, memang harus ada yang mau menjadi pengamat. Sebab, sejarah tak akan pernah bisa ditulis tanpa adanya saksi.

Semoga Tuhan melindungi orang-orang yang munafik. Sepertiku…

 

 

 

Mumu Aloha, lahir dan besar di Solo hingga lulus kuliah dari Jurusan Ilmu Komunikasi-FISIP, UNS. Sejak 2000 bergabung dengan portal berita detikcom. Pada 2001 ikut mendirikan Q! Film Festival dan aktif hingga beberapa tahun kemudian. Sempat keluar dari detikcom, dan menulis freelance untuk kritik film dan sastra, menyunting novel dan buku kumpulan cerpen untuk sejumlah penerbit, dan “menjadi blogger”. Sejak 2010 bergabung lagi ke detikcom, sebagai redaktur pelaksana kanal detikhot. Pada 2011 bersama beberapa teman mendirikan Kopdar Budaya, kelompok diskusi bebas bulanan yang berlangsung hingga kini. Aktif di akun Twitter @mumualoha dan mengelola blog talingtarung.wordpress.com. Saat ini tengah menyelesaikan penulisan skenario film tentang Wiji Thukul.

Foto oleh Festi Noverini