(Di Kopitiam Oey, Aku Teringat Postingan Lamaku di Multiply tentang) Kafe-kafe Kecil di Mall-mall Pinggir Kota oleh Mumu Aloha

Aku menyukai kafe-kafe di mall-mall pinggir kota. Memasuki ruangannya, rasanya seperti datang ke sebuah dusun terpencil yang sunyi. Perpaduan antara suasana tenang yang menenteramkan dan keramahan sang tuan rumah yang tulus. Semua orang bahagia, tak ada yang tampak sedih atau putus asa. Tak akan kau jumpai seorang perempuan dengan gaun setengah terbuka terduduk frustrasi di pojokan, sendirian, berwajah murung, gelisah, seperti menunggu seseorang (atau sesuatu) dan menatap sekeliling dengan curiga. Tak ada pasangan homo yang bertengkar dengan suara ditekan selirih mungkin. Pun, tak terlihat serombongan bapak-bapak bertampang seram yang berdiskusi tentang politik dengan lontaran-lontaran analisis canggih seolah-olah mereka sedang rekaman untuk acara talk show di televisi.

Kafe-kafe di mall-mall pinggir kota adalah rumah tuhan yang lain, tempat orang-orang suci, hanya orang-orang suci, singgah dengan hati yang bersih dan kepasrahan total. Penjaga konter, seorang perempuan dengan celemek biru laut, berbadan subur, agak pendek, berkulit terang, akan menyambutmu dengan senyum seorang sahabat lama. Dan pria-pria yang sibuk di belakangnya, meracik minuman-minuman yang dipesan, menjadi pemandangan latar yang membuatmu ingin berdiri sedikit lebih lama di situ, sebelum kemudian melangkah ke dalam, mencari sofa yang kosong. Akan selalu ada sofa yang kosong untukmu, tidak seperti di kafe-kafe pusat kota yang setiap kali memasukinya akan terasa seperti berjalan di antara orang-orang asing yang memperhatikanmu, dengan salah satu di antaranya seorang penembak misterius yang siap membidikmu. Atau, seseorang yang pernah mengenalmu, mungkin lewat chatting, mungkin sempat tidur denganmu, tiba-tiba memanggilmu dari sebuah bangku, membuatmu terbakar rasa malu, lalu sibuk memikirkan cara bagaimana berlagak pura-pura lupa.

Di sini, di kafe mall pinggir kota, tenang saja, tak akan ada kejadian yang mempermalukanmu, tidak mungkin –bagaimana mungkin, sebab ini adalah rumah keduamu, dan semua orang rasanya seperti saudara jauh yang berkumpul kembali dalam sebuah arisan keluarga, duduk dalam satu ruangan dengan kesibukan masing-masing, riuh tapi suasana tetap terjaga untuk tak berubah menjadi gaduh. Tak ada penyusup; musuh atau orang yang kau benci atau ingin kau lupakan selamanya, tiba-tiba muncul dan membuatmu salah tingkah. Paling banter, yang akan sedikit mengusikmu, hanyalah seorang peminjam korek api, biasanya pria-pria pengisap rokok kretek yang datang ke kafe bersama istrinya yang alim, setelah ritual belanja bulanan –pasangan-pasangan muda yang senantiasa membuatmu merasa bahwa dunia tak pernah kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kafe-kafe di mall-mall pinggir kota menjaga ingatanmu pada falsafah lama, yang semakin hari kian terasa benar saja, bahwa hidup hanyalah singgah minum, sesederhana itu, sesepele itu. Kita bekerja seharian, meeting dengan klien, berdebat saling mempertahankan ide masing-masing untuk kemudian duduk bersama menyereput kopi sambil tertawa. Kita selingkuh, menelantarkan anak-istri, sesekali bertengkar dengan tetangga. Kita habiskan uang untuk mencalonkan diri jadi caleg, pergi ke panti pijat dan terjaring rasia polisi. Kita menulis buku, berharap bisa mengubah dunia, sukur-sukur laris, meluncurkannya lewat sebuah pesta meriah, dipuji kritikus untuk akhirnya hanya menumpuk di toko sampai berdebu karena tidak laku. Kita bekerja, bergaul, bercinta, berpolitik, bermusuhan, bermimpi. Kita menjalani hidup, berbuat sesuatu, melakukan apa saja, jam sekian di sini, jam sekian di sana, lalu berakhir di sebuah kafe di mal pinggir kota. Kita menikah, belanja bulanan, lalu mampir untuk secangkir capucino sambil menuntaskan obrolan kemarin, dan kemarinnya lagi. Sesederhana itu. Sesepele itu.

 

 

 

 

Mumu Aloha, lahir dan besar di Solo hingga lulus kuliah dari Jurusan Ilmu Komunikasi-FISIP, UNS. Sejak 2000 bergabung dengan portal berita detikcom. Pada 2001 ikut mendirikan Q! Film Festival dan aktif hingga beberapa tahun kemudian. Sempat keluar dari detikcom, dan menulis freelance untuk kritik film dan sastra, menyunting novel dan buku kumpulan cerpen untuk sejumlah penerbit, dan “menjadi blogger”. Sejak 2010 bergabung lagi ke detikcom, sebagai redaktur pelaksana kanal detikhot. Pada 2011 bersama beberapa teman mendirikan Kopdar Budaya, kelompok diskusi bebas bulanan yang berlangsung hingga kini. Aktif di akun Twitter @mumualoha dan mengelola blog talingtarung.wordpress.com. Saat ini tengah menyelesaikan penulisan skenario film tentang Wiji Thukul.

FOTO OLEH FESTI NOVERINI