Dua Puisi oleh Intan Febriani

surat 8

Barangkali perasaanku padamu, Babul, tidak ada duplikatnya di jagad ini. Kita bertemu tak kurang dari delapan belas tahun lalu tanpa sempat saling mengenal; tapi hingga pagi sepagi ini, aku kuat merindu ingin menjabat tanganmu atau mencermati belahan rambutmu. Kau di mana sekarang, Babul? Aku mengingatmu sebagai bocah berkulit legam dengan rambut yang selalu klimis setiap pagi. Sore harinya, dari balik pintu aku suka mengamati ibu, paman dan bibi-bibimu menggoreng bulatan tepung di dalam wajan. Aku berharap betul kau sudah pergi sejauh-jauhnya dari Gulshan Avenue yang kudengar sekarang sudah menjadi kompleks orang-orang kulit putih. Aku tidak mau membayangkan kau bertubuh tegap, mengenakan tuxedo dan dasi kupu-kupu berjalan mondar-mandir menghidangkan caviar atau memoles sepatu para tuan hingga mengkilap.

Aku harap kau sedang belajar ilmu komputer di India atau hukum di Inggris (ya, seperti Gandhi, Babul!) dan akan segera kembali ke Dhaka untuk membangun negerimu. Kapan bangsa kita kenyang, Babul? Hingga urusan perut takkan lagi jadi soal. Hingga tiap orang mulai memikirkan perut orang lain atau memikirkan anak-anak orang lain, atau memikirkan hewan, karya sastra atau apa sajalah yang bukan uang. Hidup dijalani sepenuhnya untuk mengaktualisasikan diri, bukan lagi untuk mencari hal-hal yang menyokongnya agar hidup: makanan, tempat tinggal, uang. Kapan, Babul?

Pada suatu malam, beberapa hari setelah ayahmu meninggal, ayahku memimpikan ayahmu. Ia lupa persisnya tentang apa tetapi seperti reka ulang pertemuan mereka ketika ayahmu meminta diajak bekerja di Indonesia. Oh…selama bertahun-tahun kami sekeluarga rindu donat lembut buatan ayahmu dengan taburan gula putih di atasnya. Di sini aku melihat para kulit putih membantu negeriku. Banyak hal yang ingin kuceritakan dan kutanyakan padamu. Aku sering kali merasa inferior terhadap mereka. Inferioritas yang tak jarang mengemuka sebagai kebencian tertahan. Seperti salah seorang atasanku yang tak mengira kaus oblong Picasso di meja setrikaan adalah punyaku. Atau peraturan yang melarang kami menginap di guesthouse karena itu hanya untuk para kulit putih. Begitukah dulu kau memandang seluruh keluargaku yang mempekerjakan seluruh keluargamu, Babul?

Aku lupa bagaimana kau, aku dan adik perempuanmu dulu bisa main bersama berkejar-kejaran di ruang tamu. Sedang satu-satunya kata yang kutau dalam bahasamu adalah “Aste aste!” itupun aku tak tau ejaannya. Dan kau, mungkin kau hanya bisa mengucap “Terima kasih”. Kali berikut kita bertemu, Babul, aku harap kita sedang sama-sama berbuat sesuatu untuk negeri kita. Rasanya dulu kita tidak pernah berkendara berdua naik rickshaw? Kau juga belum pernah ke Jakarta, kan? Ah, aku punya ide lain. Untuk sehari atau dua, aku akan menjadi perempuanmu. Lalu tanganku melingkar di tanganmu dan kita akan menyusuri Oxford Street dengan dagu terangkat. Kau akan membelikanku pakaian mahal dan aku membelikanmu sandal kulit seharga tiga bulan kontrakan rumah sederhana di negeriku. Atau kau lebih suka berburu buku di sepanjang Charing Cross Road? Kita akan naik taksi dan memberikan tip berkali lipat dibanding orang kebanyakan. Lalu menikmati pandangan orang yang menyangka kita pasangan imigran dari dunia ketiga yang sukses. Atau bisa saja kita ke kota Firenze setelah sebelumnya makan pizza bohong-bohongan di restoran Dolce Vita di kotamu.

Ke manapun itu, yang jelas kita harus bertemu, Babul. Aku harap kau balas surat ini selekasnya. Tolong sertakan selembar fotomu atau dua, agar aku bisa melihat betapa kau telah tumbuh menjadi laki-laki gagah yang tinggal bersamaku delapan belas tahun lalu di Gulshan Avenue dulu.

 

 

 

berlibur ke rumah nenek

pulangnya ia duduk tenang-tenang di jok belakang. kaki goyang-goyang mata menerawang. lalu tertawa kecil menyadari rima murahan yang terbentuk dalam pikirannya barusan. haha murahanbarusan, satu lagi rima kacangan.dan kata itu mengingatkannya akan dirinya. maka tangannya berusaha mengalihkan pikiran dengan mengaduk-aduk keripik kentang lay’s. kres. dan rasa asin pecah di mulutnya. rasa asin yang klasik, begitu tertulis di bungkusnya. selain rasa asin, rasa apalagi ya yang bisa klasik? rasa kecewa yang klasik rasa puas yang klasik rasa terbuang yang klasik rasa dicintai yang klasik rasa gagal yang klasik. lalu ia membayangkan pergi ke supermarket membeli beberapa stoples rasa bahagia yang klasik. ia akan berjinjit, menukarkan puluhan uang logam dari celengan bart simpsons-nya untuk sestoples bahagia yang klasik. petugas kasir menepis uang logamnya dengan kasar. clang. clang ketika permukaan uang logam berdaki membentur tepi meja kasir yang dingin. heh ingat ya sestoples bahagia bukan untuk dimiliki anak-anak sepertimu. dan clang di hatinya. dengan gugup ia memasukkan uang logam ke saku. kaki kanannya bergerak sendiri menendang pelan kursi sopir. ia tersentak bangun karena rasa gigil yang terlalu, yang ia sendiri tidak tau namanya. oh ya barangkali ini rasa sedih yang klasik, pikirnya. dan ia memilih untuk memejamkan kedua matanya kembali.

 

 

 

Intan Febriani, born and bred in Jakarta. Sejak 7 Februari 1984.

Foto oleh Festi Noverini