Enam Puisi oleh Mikael Johani

les archives de l’arrondissement voie et batiments de mangga besar

quest-ce que cest cest un cest un sais pas

di luar budak budak menunggu dengan kuda dan dedak

di dalam tuan tuan membalur kambing marrakesh dengan kecap

quest-ce que cest cest un cest un sais pas

fotoin dong cyin apakah ART-mu bisa dimintai tolong

quest-ce que cest cest un cest un sais pas

quest-ce que cest cest un cest un sais pas

ambilin dong cyin they’re running out of wine and rarefied air

tergantung apakah kamu merasa tidak enak memetik payung dari langit langit

quest-ce que cest cest un cest un sais pas

tergantung apakah kamu merasa masih perlu karpet merah di gedong besaran

quest-ce que cest cest un cest un sais pas quest-ce que cest cest un cest un sais pas quest-ce que cest cest un cest un sais pas

di luar di dalam fotoin ambilin tergantung tergantung

 

 

 

zona bocah

panas sembilan puluh delapan derajat di petak petak rumah sempit sesak dengan bau ikan dan mani basi

anak anak lelaki bermain bola di gang gang becek penuh botol bekas aqua vit prim-a ades top qua

ambillah itu bola plastik yang telah lama menyapu debu dan tai kucing dari lapangan lapangan semen sumbangan USAID

catlah tembok tembok lusuh itu dengan warna warna buruk tanpa cela yang hanya akan menyembunyikan jaket punk rock pembunuh lele yang menggantung di balik pintu

hanya anak baru di blok penjaringan yang berani minum kopi di warung tanpa bermain gitar

 

 

 

fields of syphilism
untuk Durga

kaos kutang fields of the nephilimmu membuatku merasa
tap tap tap saja titi titimu dari cikini raya hingga senayan
hiraukan mantra dan jampi answering machine
tempa rubahku dalam serentetatan tinta hitam
kau, dewaku berbuntut tikus

 

 

 

cempaka

aku tidak ingin berada kembali.

gang yang asing.

matahari pukul 10.

pagar hitam.

tangan yang menyelip di sela-sela.

aku kembalikan: kacamata, gus tf, kaos seringai.

kau terima tanpa kata-kata.

hanya matamu.

bola hitam berair.

menyembunyikan pedang.

menyangga duka.

 

 

 

god’s emulsion

suatu sore ia berbelanja di carrefour dan mendorong trolley dengan sesuatu yang menggantung di dadanya. ia lama menimbang-nimbang mana yang lebih ekonomis apakah mamy poko isi 44 dengan harga 82 ribu sekian sekian atau isi 66 dengan harga 122 ribu sekian sekian. ia tidak pernah pintar matematika. menurut perhitungannya dunia ini kurang besar untuk melarikan jiwa. teruslah ia mendorong trolley yang berdecit-decit ke rak tissue, sunlight, sikat kuali, zip-lock baggies, dan mampir sebentar di rak sendal untuk membelikan ando warna ungu ukuran 38 untuk istrinya yang begitu dicintainya. setiap hari ia ketakutan akan mati dan tidak bisa lagi menyusulnya tidur dini hari setelah semalaman twitteran. ia berpikir ia ingin juga/tidak tahu apakah ia ingin juga ando warna hijau tentara ukuran 42 yang telah ia lemparkan juga ke dalam trolley tapi akhirnya ia kembalikan ke rak. ia berpikir ia tidak ingin apa-apa lagi dalam hidup ini kecuali melihat bayinya yang sekarang baru berumur 8 bulan tumbuh sehat tak pernah kurang suatu apa dan istrinya tumbuh tua dan makin cantik dengan uban yang memenuhi dahinya. atau ia mati juga tak apa-apa asal mereka berdua tak pernah kurang suatu apa. itu saja yang ia minta. doanya dalam hati kepada rak indomie.

 

 

 

no afgan

selepas cut /// copy aku menggelar lapak, berjualan harem pants, kaos kutang dan potongan-potongan keriaan. juga booties tak lupa. dalam berbagai macam gaya dan warna. namun angin malam seakan tak mau beranjak dari diam. sehingga kubuka lagi sekaleng dua anker 500ml dan kutenggak gedung-gedung bertingkat bersamanya.
seorang pelanggan bertanya, “apakah tersedia repetto zizi homme dalam white patent leather?” saya jawab, dengan sesimpul senyum, “tidak, namun ada sepasang trippen lou in cloud waw, jika mau.” ia menggelengkan kepala dengan ganas dan melangkah pergi meninggalkan jejak-jejak kaki yang melelehkan aspal.

the customer is king. dan kadang-kadang seorang ratu akan menolak dimadu.

 

 

 

Mikael Johani, lahir di Yogyakarta. Besar di Madiun, Yogyakarta, Jakarta, Canberra, Sydney. Mulai menua di Tangerang dan Jakarta. Penyair, kritikus sastra, kurator film, penerjemah. Buku puisi pertamanya berjudul We Are Nowhere And It’s Wow (irisPustaka, 2008). Pernah ikut International Poetry Festival 2012 di Pekalongan. Tulisan-tulisannya yang lain pernah dimuat di antologi puisi What’s Poetry? (Henk Publica, 2012), kumpulan esai musik Memoritmo (Bukune, 2012), dan berbagai majalah dan jurnal, online maupun offline, termasuk Bung!, boemipoetra, Pop Teori, Vita Traductiva, a+, Matabaca, soap, dll.

FOTO OLEH FESTI NOVERINI