Enam Puisi oleh Mumu Aloha

Sebuah Pengakuan Dosa

Hari Minggu makan sapo tahu

Cinta pergi pada Senin pagi

Pulang kerja nongkrong di mana?

Brondong Sency lucu-lucu

Mau beli sepatu malah dapat baju

Dan selalu ada celana yang menggoda

Umur kepala tiga tingkah remaja

Tapi apa arti usia jika yang dicari sama

Beli buku sastra untuk apa?

Patah hati itu biasa selama

Masih bisa belanja dan beli pulsa

Tak perlu nunggu diskon di Zara

Menabung nanti-nanti saja

Sekarang habiskan semua

I’m broke but I’m hapyy *

Walau hampa pasti kuhadapi **

Belakangan ini aku makin sensitif

Mungkin karena mulai putus asa

Umur kepala tiga belum menulis

Apa-apa dan tidak ke mana-mana

Menyanyikan lagu-lagu cinta

Makin jauh dari pergaulan

Orang-orang dewasa

Kamu masih yoga? ***

Aku sekarang lebih banyak di rumah

Memotret wajah sendiri dalam cermin

Dan sudah lama lupa cara berdoa

Sibuk memikirkan besok pakai baju apa

Untuk pesta ulang tahun sebuah plaza

Umurku kepala tiga dan minum wine

Di antara perempuan-perempuan

Pucat berwajah jahat

Mencela orang sambil tertawa panjang

Umurku kepala tiga dan, ya Tuhan

Aku berciuman dengan orang asing

Di suatu tempat yang gelap dan bising

Umurku kepala tiga dan tak membaca

Pram dan Sherlock Holmes dan masih

Menonton film horor Indonesia

Malam Minggu ke mana?

Tele-tele ya….

 

*) dari lagu Alanis Morisette

**) dari lagu Bondan Prakosa feat. Fade to Black

***) dari film “Mati Suri” (Rizal Mantovani, 2009)

 

 

 

I’m Single and Not So Happy, Oppie

sudahlah lirik-lirik murahanmu itu
tak akan mampu menghiburku

perlu berapa banyak pesta
untuk mengusir kesepian?

hidupku sangat sempurna
oh ya? bokis!

blazer saja aku tak punya
dan masih harus beli syal

untuk musim hujan
I’m single dan rambutku

masih bergaya 70-an
and I’m not so very happy

 

 

 

tanpa judul

ini bukan sulap, nyonya

tapi lihat

di tangan saya

kemiskinan mengembang

jadi busa merah muda

dalam kantong-kantong plastik

bergambar naruto dan dora

bergoyang-goyang di pikulan

kekal dan bosan seperti nasib

matang seperti buah

menunggu dipetik

 

 

 

Musim Semi Puisi di Facebook

akhir-akhir ini
aku sering keluar malam
dan sulit membedakan
antara tersesat jalan
dan kehilangan alasan
untuk pulang

tiba-tiba
bulan februari terasa
sangat panjang
sejak gerimis pagi itu
menelan tubuhmu
dan mengubah jalan-jalan
menjadi kenangan

sampai sekarang
aku tak punya cara
untuk melupakanmu
kecuali diam-diam
belajar membenci
semua hal

suatu hari
mungkin kita akan
papasan di suatu simpang
atau saling memergoki
sedang makan tom yam
bersama kekasih baru
di foodcourt
tempat pertama
kita bertemu

tidak,
aku pasti akan terlalu tua
untuk segala drama percintaan
babak berikutnya
dan telanjur letih sebelum
menghadiri semua pesta

dunia akan melupakanku
dan rumah yang pernah
kita tinggali ternyata tak
meminta alasan apa pun
untuk ditinggal pergi

sebab, kau telah lebih dulu
menghancurkannya

 

 

 

Agenda dan Fashion untuk Musim Hujan Bulan ini

“You can look cute in the rain if you wear printed sneakers
that match your umbrella!”
(Seventeen)

kata ramalan cuaca
hujan akan turun seharian
sepanjang bulan
februari

siapkan fashion musim dingin, katamu
aku sudah punya syal
sepuluh ribuan
beli di pasar festival
dan hoodie dari musim
hujan tahun lalu

tapi aku malas
bangun lebih pagi
percuma
kemacetan tak kenal waktu
dan busway makin brengsek saja

tak perlu sarapan
makan siang saja lebih cepat
aku lagi suka menu nasi padang
pepes bawal bakar
dan teh tawar
dan waktu akan cepat berlalu

what are you doing right now?
sebentar lagi sore
pulangnya naik taksi saja
mampir dulu ke
grand indonesia
ngecek diskon
di zara

aku masih perlu satu lagi
sweater rajut berleher V
sesuai tips majalah luar negeri
menghadapi musim hujan ini
dengan penuh percaya diri

 

 

 

Dunia bagi Orang Sakit

Sekuntum bunga plastik dalam botol bekas bir berguguran seperti angka-angka yang luruh dari lembar kalender bergambar pria telanjang dada bonus tahunan Cosmopolitan. Masih ada apa di kulkas, sisa pesta akhir pekan? Aku ingin beberapa butir anggur merah segar, atau sebutir saja buah pir hijau yang masih muda untuk membasuh tenggorokan yang kerontang, dan jiwa yang nyaris sekarat oleh demam semalam. Sebelum dua keponakan kecilku yang nakal pulang dari sekolah dan menghabiskannya.

 

 

 

Mumu Aloha, lahir dan besar di Solo hingga lulus kuliah dari Jurusan Ilmu Komunikasi-FISIP, UNS. Sejak 2000 bergabung dengan portal berita detikcom. Pada 2001 ikut mendirikan Q! Film Festival dan aktif hingga beberapa tahun kemudian. Sempat keluar dari detikcom, dan menulis freelance untuk kritik film dan sastra, menyunting novel dan buku kumpulan cerpen untuk sejumlah penerbit, dan “menjadi blogger”. Sejak 2010 bergabung lagi ke detikcom, sebagai redaktur pelaksana kanal detikhot. Pada 2011 bersama beberapa teman mendirikan Kopdar Budaya, kelompok diskusi bebas bulanan yang berlangsung hingga kini. Aktif di akun Twitter @mumualoha dan mengelola blog talingtarung.wordpress.com. Saat ini tengah menyelesaikan penulisan skenario film tentang Wiji Thukul.

Foto oleh Festi Noverini