Enam Puisi oleh Yoshi Febrianto

tak ada yang bisa kau lakukan, selain…

tak ada yang bisa kau lakukan
saat metromini tampak perlahan di cakrawala,
selain menunjuk ke arah metromini tersebut
sambil berharap masih ada kursi tersisa
lalu kau tak percaya diri, kau lihat lagi, pakai apa hari ini
karena metromini sering sombong pada putih abu-abu

tak ada yang bisa kau lakukan
saat petugas ajal telah menjemput
selain menyebut
merapalkan doa-doa
yang kau hafal tentunya
menyebut satu-satu
hal-hal buruk yang telah kau lakukan

tak ada yang bisa kau lakukan
saat tukang bubur menyerukan dagangannya keras-keras
selain bergegas

 

0637 20112010

 

 

 

saatnya mencicil helikopter

ketika kepercayaan telah dicampakkan, lebih parah dari nyanyian iwan fals
ketika ketamakan adalah agama yang lebih besar dari katholik dan islam
ini saatnya mencicil helikopter

ketika hitam semakin berisi, dan hijau semakin seksi
dan film cinta adalah satu-satunya hiburan
ini saatnya mencicil helikopter

ketika waras bukanlah temannya sabar, oh aku ingin hamburger
ketika informasi adalah rempah-rempah teranyar
ini saatnya mencicil helikopter

ini saatnya mencicil helikopter
hubungi sdr. feri, utk cicilan dengan bunga yang ringan
0811 6174-6174410
obii gila-gila aio!

 

 

 

tank di senayan, tank di kuningan, tak sekalian di khayangan?

kau tempatkan tank-tank itu
di sini dan di situ.
tank di senayan,
tank di kuningan,
tak sekalian di khayangan?

tak takutkah engkau tank itu dikorupsi?
dipreteli sekrupnya siji-siji
sehingga tak lagi mampu melintasi ambalat
ah. ambalat kan bukan pulau! melainkan selat.

ah. papa nobita
doraemon hanyalah impian anakmu saja.

papa,
jangan kau pikir gajah mada
setia pada sumpahnya
nusantara, gemah ripah loh jinawi
mungkin ia mabuk nira saja.

papa,
tank di senayan,
tank di kuningan

tank bisa siap
voorijder bisa 86

tapi hatiku?
tank di senayan,
tank di kuningan
tank di hatiku, kau tak akan mampu.

tank-tank itu telah membuktikan
century tak sejujur centurions
tak ada zion tanpa babylon

 

0659 08122009

 

 

 

catatan perjalanan: tracy chapman live in jogja (bag.1)

tracy chapman,
hendak berdendang di prambanan.
berjalan denganku

“numpak busway-wae!”
kata gadis penunggu stanplat bis
(khusus trans jogja)
lalu kami naik busway

tracy bertanya padaku,
“mengapa banyak warga kota ini naik bis kota,
dengan membawa helm,
yang biasa dipakai berkendara motor?”

langsung aku jawab,
“ada tiga alasan”
“satu, sebagai alat pembawa barang-barang,
pengganti tas kresek yang tak ramah lingkungan.”
“dua, sebagai alat bela diri dari pencoleng.”
“tiga, sebagai bagian dari trend.
lihat saja, semua warna-warni!”

“kalau menurut kamu untuk apa?”
tanyaku.

“mana aku tahu?
yang aku tahu adalah,
lagu-lagu rakyat di nusantara sekarang ini
ada versi remix cepat karya musisi-musisi
house-trance jakarta kota,”
tukasnya.

 

1302 18042008

 

 

 

catatan perjalanan: tracy chapman live in jogja (bag.2)

sementara dia menjawab,
saya baca tulisan-tulisan 
dari balik jendela
“kipas angin 95,000″
“399, ke semua operator”
“welcome to jogja, factory outlet”

dua orang, dengan helmnya masing-masing
turun di muka de britto

naik seorang pelajar dengan seragam soklat-soklat
dan tiga orang pria dengan helmnya masing-masing
berbeda warna.


“3 woman dj, anna, dina, tammy”
“angel legs competition”

tracy chapman,
memetik gitarnya, tentang revolusi ia bercerita
“don’t you know, talkin bout revolution, son!”

tracy turun dari busway
tracy is on her way

“ke prambanan? dengan becak aja!”
kata tukang becak menawarkan

tracy bilang,
“mendingan jalan.”

aku bertanya,
“kenapa mendingan jalan?”

“namanya juga jalan-jalan,”
jawabnya

tibalah di pelataran prambanan

katanya,
“wah, aku jadi teringat kepada rihanna.”

“lho, kenapa?”
tanyaku

“karena banyak gadis payung di sini dan di sana,
menawarkan umbrella,”
jawabnya

 

1302 18042008

 

 

 

catatan perjalanan: tracy chapman live in jogja (bag.3)

prambanan berdiri tegak
di sana
meskipun
berbaju tiang-tiang penyangga

di bagian bawahnya bertuliskan

“restorasi ini didanai jepang.”

aku lalu berpikir,
“jepang,
dulu restorasi meiji,
sekarang restorasi prambanan.”

aku 
lalu bersumpah
“jika kelak kuil-kuil meiji runtuh,
warga prambanan-lah yang akan mendanai.”

tracy mengangguk
lalu menambahkan,
“lima ratus tahun lagi,
pusat-pusat belanja kaum berada
akan jadi cagar budaya,
mengenang kapitalisme.”

 

1302 18042008

 

 

 

Yoshi Febrianto (atau sering dipanggil Yoshi Fe) tumbuh besar di antara Ciputat, Selatan Jakarta dan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di masa kecilnya, ia senang sekali ke lorong-lorong Mayestik dengan buah segar, penjahit dan copetnya. Sekarang hidup untuk keluarga, KPR, dan AFTA 2015. Puisinya yang kedua berjudul (kalau tidak salah), “Antara Sukamantri dan Irlandia”.

Foto oleh Festi Noverini