Lima Puisi oleh Farhanah

Berserakan

Malam mengeras, semen Stasiun Sudirman yang dingin. Pakai semaumu, tangan yang di-barcode dan dipajang di rak-rak Sevel yang tersebar di sepanjang rel commuter line. Tarik ke kasir, juga available di Indomaret dan Alfamart yang tak pernah rela berjauhan.

Tak ada kau di wikihow, bagaimana cara hadapi orang depresi, enter! Manusia-manusia yang menggigil bagi server yang kegerahan. We’re taking different pills for the same disease. Menelan harapan dan overdosis.

Vakansi di Jagorawi yang kosong jelang Lebaran. Memandangi matahari merobek awan perlahan seperti anak ayam keluar dari telurnya malu-malu.

 

 

 

Selebihnya

Jalan menuju hati berawal dari kepala. Perasaan saya dikangkangi otak. Sepertinya saya terlalu banyak memikirkan hal-hal yang jawabannya sepasti ke mana kita pergi setelah mati. Kalau kata seorang teman, have fun saja lah, boleh mikirin sesuatu tapi jangan kebanyakan. Seperti setelah menonton dokumenter soal Steve Jobs di BBC Knowledge minggu lalu. Steve Jobs masuk surga atau neraka? Memang ada neraka sama surga?
Saya tenggelam di serial-serial yang saya ulang setiap malam sebelum tidur. Untuk besok kembali lagi menghadapi pagi-pagi yang dubstep dan sore-sore yang agak shoegaze. Diselingi lari-lari yang payah dan paru-paru yang selalu keberatan. Saya membiarkan sebagian besar waktu saya dicuri cerita-cerita: buku, film, serial, lirik lagu. Supaya saya cuma harus menjalani selebihnya. Seperti seledri yang sengaja ditinggal di mangkuk bubur pagi tadi.

 

 

 

Besok Pagi Jangan Jatuh Lagi

Di jam-jam seperti ini podium milik kipas angin tak bertutup
Kamar ini butuh lebih banyak udara
Besok pagi aku akan beli jendela yang langsung menghadap senyummu
dan parasut
Jangan jatuh lagi
Jangan jatuh pagi
Suatu hari kita akan menonton bioskop di tangan kananku dan kirimu yang disatukan
Sudah berkali-kali kamu bilang
Jakarta itu seperti istana disfungsi yang dibangun di antara septic tank
Penuh twit rasa macet, tambal ban, dan jawaban “no, thanks”
Besok pagi
Jangan jatuh lagi

 

 

 

Tanpa Judul

Perempuan lajang paling suka beli underwear
Bola mata balita ini membengkak dan meletus
Foto ‘topless’ Kate Middleton segera beredar
Taman pun terlihat seksi….
Anjing tunggui makam tuannya selama 6 tahun
Vespa diulur seperti ular!
Ingin pesan toyota Prius C,
silakan!
Buruh akan gelar mogok massal jika…
Jokowi batal shalat Jumat bareng foke

 

*Kompas.com timeline mash up, 14 September 2012

 

 

 

Ode Ngeteng

“Tap di sini”
Tanda X merah, gagal
Ibu-ibu gempal dengan tiga tentengan besar di kanan-kiri tangannya
“Tap lagi, bu!” ujar penjaga mesin tap kartu commuter line
Tanda V hijau, berhasil!

Hidup adalah antrian berseri sepanjang hari
Tak peduli berapa banyak jinjingan menggantung di jari-jari
Penantian mendapatkan bangku sebelum stasiun akhir
Tak peduli sudah berapa stasiun kaki berdiri
Yang penting “Kaki kiri lebih dulu!”

“Take care of your belongings!”

“Dilarang Bersandar Dipintu”
Hanya di- yang boleh menyandar di pintu
Manusia-manusia bebas parkir
Mana yang lebih dulu
Selain kaki kiri
Mana yang lebih murah
Ojek dengan k atau ojeg dengan g

“Take care of your belongings!”

 

 

 

Farhanah adalah pengguna dan penggerutu commuter line Bogor-Jakarta. Suka menulis (semacam) puisi di blog pribadinya.