Lima Puisi oleh Festi Noverini

lost in translation

mungkin aku akan menemani kota ini
mati
sepi dan sendiri.

 

 

 

mantengin layar

16 dari 24 jam hari ini kuhabiskan maraton memandangi layar. layar laptop, layar handphone, kembali ke laptop, kembali ke handphone, pindah ke layar TV sejenak (untuk mengintip apakah episode FTV SCTV kali ini menarik), makan, mandi, gegoleran, kembali ke layar laptop bergantian dengan layar handphone sambil mengintip layar TV, lalu kembali ke laptop sambil gegoleran mencari torrent episode terkini reality show(s) kesukaan supaya bisa disedot gan saat kutinggal tidur nanti.

kemarin begini, besok begini, lusa ya mbuh.

bisa stroke lama-lama.

habis… apalagi yang bisa dilakukan seorang pengangguran #kelasmenengahngehek dengan nominal di rekening yang tipis tiris tengkurep nyaris menembus titik keseimbangan angka nol. cuma bisa taktis dan strategis. setengah kubelikan pulsa internet yang puji tuhan alhamdulillah lagi gak ngocol bulan ini supaya aku tetap punya ilusi dunia ini baik-baik saja, semuanya baik-baik saja. setengah lagi kupirit-pirit yang nanti akan kupakai seiprit-seiprit untuk menunaikan ibadah pergaulan anak jakarta. oh, beratnya #bebanpencitraan!

 

bah! aku tak tahu siapa yang lebih ngehek. aku. atau kota busuk ini.

 

sebentar. aku makan dulu indomie telor rebusku. saat ini cukup rasanya jika hanya perutku yang bahagia.

 

 

 

siang di karet

nanti malam tidurku
ditemani tanah dan kecoak

 

karet bivak, 19 april 2007

 

 

 

aku takut mati depresi terlalu dini

aku takut mati depresi terlalu dini
karena setiap hari ketemu kamu yang ter/selalu happy dan bubbly
bicara (selalu) sampah sana-sini
ketawa-ketiwi tanpa arti
lalalala lililili

aku takut mati depresi terlalu dini
karena setiap saat ketemu kamu yang baik hati tapi tak punya “hati”
lebih baik hidup dalam ilusi daripada merasakan patah hati
karena toh semuanya akan baik-baik saja… pasti!
‘kan The Secret sudah janji

aku takut mati depresi terlalu dini
harus (pura-pura) ketawa-ketiwi di depanmu karena kita ‘kan sedang happy-happy
padahal otakku lagi mati suri
gara-gara disuguhi lalalala lililili
keracunan omonganmu yang putarputarputarputarputarputar itu lagi-itu lagi-itu lagi hati lagi-hati lagi-hati-lagi

 

aku takut mati depresi terlalu dini

 

karena hidupku pun, lebih dari kamu, mungkin sudah terlalu basi

 

 

 

senja di jakarta

serbuk kopi berterbangan di matamu
it makes the sky oh so grainy
“kapan aku rebah?
aku terlalu lelah”

 

*kesamaan judul dengan novel Mochtar Lubis hanya sekedar kebetulan*

 

 

 

Festi Noverini, seumur hidup tinggal di Jakarta. Melalui kesukaannya akan fotografi jalanan, ia mencurigai jangan-jangan ia mengidap “Stockholm Syndrome” terhadap kota ini. Mulai menulis puisi sejak bergabung dengan Komunitas BungaMatahari dan puisinya pernah dimuat di Antologi BungaMatahari (Avatar Press, 2005). Repetan lainnya dapat dibaca di Pop Teori dan blog pribadinya.

Foto oleh Festi Noverini