Lima Puisi oleh Gratiagusti Chananya Rompas

hujan dan burung kertas

hujan turun lagi malam ini. asap yang keluar dari mulutku tak pergi jauh. mengerubungi kepala seperti burung-burung kertas. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan memetik gitar di seberang jalan tapi suaranya tak sampai ke sini. motor dan mobil berkejaran di atas aspal yang mulai bolong-bolong. menciptakan bayang-bayang yang berkelebat di antara deretan ruko dan gerobak-gerobak penjual buah di pinggir jalan. di sini, di bawah lampu jalan dan papan iklan, kesedihan tak sempat lagi ditangisi. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan menyalakan rokoknya. ini segelas kopi hitam, kata sebuah suara entah dari kepala siapa. tak lama lagi, hujan dan burung kertas akan jadi abu yang berserakan di permukaan konblok.

 

 

 

galaksi baru

di meja makan datang pikiran mungkin memang ini saatnya mencari galaksi baru. sup kacang merah terlihat seperti debu-debu kosmis dan dapur yang remang-remang membuat rindu pada cahaya yang pecah jadi pelangi. lalu kita berbicara tentang losmen kedasih dan tukang kaca mata keliling. tentang respek dan milkshake. sampai akhirnya, tentang renovasi rumah yang belum kunjung dimulai. diam-diam ada yang memeluk kakiku seperti arwah yang enggan terbang. sampai ke mana petualangan akan membawa dirimu. ke ruang tamu yang layak masuk majalah, di mana keluarga dan kawan-kawanmu minum teh dan makan kue coklat, atau sebuah planet asing yang udaranya menjanjikan sejarah penuh kemenangan bagi umat manusia, atau hanya sebuah tempat, di mana pun itu asal tidak di sini, di mana kau bisa mati. lebih berarti mungkin, tapi tetap mati. karena ketika kecoak terakhir terguling kaku, tidak ada lagi yang makan sup kacang merah. dan debu-debu kosmis tetap melayang-layang di luar sana seakan-akan tidak pernah ada yang meninggalkan bumi.

 

 

 

kadang-kadang ingin juga berdandan hanya karena ini jumat malam

kadang-kadang ingin juga berdandan hanya karena ini jumat malam. lalu keluar memandangi lampu-lampu sambil berjalan di atas trotoar yang basah. sudah lama malam dingin seperti ini tak tersimpan di dalam tangan yang terkepal di dalam saku dan bau paket ayam goreng yang bercampur dengan parfum di tengkuk tak terbawa angin yang berhembus dari kendaraan yang lewat.

kota ini merekam sejarah di tiang-tiang listrik. di jembatan penyeberangan yang mulai bolong-bolong. dan di tikungan tempat mangkal taksi-taksi ngantuk. karena kau tak bisa lagi duduk di sebuah tempat dan membayangkan kau akan kembali ke sini dua tiga puluh tahun lagi. menertawakan kepedihan yang kau pikir sudah lewat hanya karena kau sudah mengalami lebih banyak kejadian. tempat mana lagi yang bisa bertahan selama itu sekarang sayang.

dan malam yang terang benderang seperti ini pun sebentar lagi berlalu. jalanan yang penuh sesak kini kosong melompong. licin seperti hidungmu yang sudah sedari tadi perlu ditouch up. sempat terlintas keinginan meniti garis lurus putih tepat di tengahnya kemudian ditertawakan penjual kopi di atas sepeda yang sesekali melintas. tapi kau lalu melakukan yang itu-itu juga: mengeluarkan kunci dan belok ke arah parkiran.

 

 

 

dari balik jendela

1

matahari terbit di jendela sevel, berkilau di layar ponsel
ini hari apa? tak ada lagi yang bertanya
hidup kini bergantung pada rima tentang yang trendi dan berkuasa
siapa kamu? tak ada lagi yang peduli

2

balita di dalam kopaja tersenyum pada angkot dan pasar di balik jendela. siang ini penuh dengan semangat yang sia-sia. semua ingin menunda yang tak terhindarkan.

3

ada kegembiraan di jalan-jalan. lampu-lampu bersinar lebih terang. klakson terdengar meriah, bukan tak sabar. karena kemacetan ini hanya sekadar antrian ke tempat yang sama. di mana semua bisa dibeli dan membeli. walaupun hanya malam ini.

4

tukang bajaj tadi mengingatkanku kalau adalah penting mempunyai dunia kecilmu sendiri, di mana semua yang (kebetulan) ada di dalamnya harus mengikuti tata cara yang sudah kau buat. di mana semua yang sudah kau buat itu adalah baik adanya. saling melengkapi dan bisa menghidupi satu sama lain. di mana semua berjalan begitu alami dan sempurna tak ada yang bisa mengganggumu. dan di mana tak ada yang bisa dengan sengaja membuatmu merasa kecurian. dan lagu-lagu dangdut favoritnya mengantarkanku menembus kota yang keringatnya berlelehan ke dalam kali berwarna hitam.

5

ya, bukankah kota ini gerbong yang bergoyang. sampaikan salam pada kekasih, karena aku belum juga tiba.

 

 

 

kota ini jatuh

kota ini jatuh

ke dalam becek

tapi tak ada yang keberatan

semua tersenyum

bersama hujan

waria memamerkan paha

yang licin berkilat kilat

sambil memutar mutar rokok

di antara jemari yang kokoh

abunya melekat

pada rok merah muda

kota ini lantai dansa

setidaknya trotoar ini

gemerlap dan licin

sinar laser menembus langit

lampu-lampu seperti pelangi

ada anak kecil berlari

dengan kaki telanjang

berpijar

seperti cahaya neon

kota ini telah minum terlalu banyak

dan wajahmu berseri-seri seperti reklame di halte bis

 

 

 

Gratiagusti Chananya Rompas lahir di Jakarta, tinggal di Tangerang. Ia adalah salah satu pendiri Komunitas BungaMatahari. Beberapa puisinya pernah diterbitkan di koran, majalah dan beberapa antologi bersama, termasuk Antologi BungaMatahari (Avatar Press, 2005). Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Kota Ini Kembang Api (irisPustaka, 2008). Tulisan-tulisan lainnya juga bisa dibaca di blog pribadinya.

Foto oleh Gratiagusti Chananya Rompas