Tiga Puisi oleh Waraney Herald Rawung

Fuck poetry, baby

Fuck poetry, baby. Lupakan naskah pengayaan sastra nusantara yang harus kau selesaikan besok pagi. Aku sudah siap dengan seragam sembalap penantang maut dari kulit biri-biri yang kau jahit bulan lalu. Kau sudah janji membaluri lengkung pinggang panggulmu dengan madu. Asli. Bukan palsu.

Jangan lupa fotokopi. Sisakan satu untukku.

Fuck poetry, baby. Novel cinta yang kita gangbang minggu lalu, habis ditelan graffiti. Aku janji membeli yang baru untukmu. Kau tiarap wangi kertas baru.

Jangan lupa fotokopi. Biarkan madu di ketiakmu.

Fuck poetry, baby. Burung merak yang kita beli di Pasar Barito tak henti-hentinya menyalak. Padahal aku kasih dia makan sesuai petunjuk yang menempel di sangkarnya. Seratus lima puluh juta. Dalam pecahan apa saja.

Jangan lupa fotokopi. Kicauannya membuatku tegak.

Fuck poetry, baby. Kita mabuk facebook kenyang wiki muntah yahoo. Mereka tak sabar mencuci jendela kita yang busuk, mengganyang apel kita yang seksi, mengunyah seragam kita yang abu-abu.

Jangan lupa fotokopi. Celanaku mulai sesak.

Fuck poetry, baby.

Terlalu banyak kopi hari ini.

 

 

 

change your belongings and step carefully, thank you

naik bis di depan sarinah
melirik mbak-mbak berbibir renyah
wangi sunsilk di pojok kanan
semburat keringat di tepi kiri

aku tahu jakarta selalu bikin gerah
tapi nakal goyangnya membetot gairah
aku tahu busway membuat copet gundah
satpam yang galak dan mbak berpantat indah

turun di kota melipir di trotoar
hati-hati nyebrang! banyak sembalap sangar!

yuk mampir ke museum bank mandiri
bangunan tua dengan sejuta alibi
sekarang milik republik, dulu harta kompeni
sekarang wisata rikiplik, dulu pusat negeri

bosan lihat bank, mari melintas di sungai panjang
gelap airnya pekat jiwanya menyimpan cerita yang garang
kekasih putus asa bunuh diri tenggelam dan hilang
saudagar cina merantau kemari untuk berdagang

sampai kita di jembatan kota intan
tak secerlang gemintang berlian
terjepit saudara betonnya
dan kota yang menua

putar balik ke cafe batavia
tak usah masuk, mahalnya!
membuang haus di jakarta
cukup cendol dan aqua!

lalu kau bertanya padaku (aku tak akan lupa)
mungkinkah suatu hari nanti jakarta yang lansia
akan muak dengan kita, dan mengusir anak-anaknya
ke padang pembuangan abadi, seperti israel tanpa musa?

aku tak bisa menjawabnya (aku tak akan lupa)

kita ke museum wayang saja, tentu kau suka
boneka-boneka dari segala penjuru dunia
nyawa yang dipinjam dan tatapan yang baka
aku yakin kau suka!

(tapi kau menolak dan mengajak pulang saja)

naik busway di depan stasiun kota
melirik mbak berkemeja belahan rendah
tahi lalat di pangkal lehernya kesepian
di tengah lautan susu yang bermuda

(next stop, bunderan ha i. change your belongings and step carefully, thank you).

 

 

 

erdinger strawberry

menurutku kau lebih berani karena garis luka di dahi itu bukan kosmetik, bukan goresan lipstik. kau lebih kuat karena urat-urat di lenganmu tak pernah menonjol namun selalu merah darah merekah. aku selalu berkompromi dengan mimpiku tentang kau dan pulau itu, tentang siapa yang menang dalam perang tanding kemarin dulu, dan tentang jawaban dari pertanyaan malam-malam erdinger dulu.

kau janji menemaniku saat keramaian di kota ini mencekik saat gairah bertualang merembes di pori-pori saat bis kota yang membuang asapnya di depan hidungku tadi berubah jadi putri duyung berdasi.

sampai kemarin kutunggu kau di teras rumahmu, bermain catur dengan bapak, seperti dalam film-film rano karno yessy gusman. padahal kau lebih suka mira w dan marga t dan kho ping hoo.

ujung pelangi yang kugenggam ini, kenapa meleleh jadi
sundae strawberry?

 

 

 

Waraney Herald Rawung, lahir di Jakarta, menghabiskan secuil masa kecil di kawasan Gajah Mada dan Kramat Sentiong, setahun tinggal di Manado, Sulawesi Utara walaupun hampir tak punya kenangan dari sana. Sudah lebih dari seperempat abad menetap di Tanah Abang, Jakarta, mengejar tukang kue putu yang menghindari matahari. Kuliah di Fakultas Sastra dan FISIP Universitas Indonesia, dan saat ini bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan humas multinasional. Menulis puisi sejak kecil, dapat semangat baru sejak ikut Komunitas BungaMatahari. Menikmati beragam social media platform untuk menulis, dan beberapa tahun terakhir ini sulit melepaskan diri dari jeratan Path, Instagram, dan Tumblr. Puisinya tersimpan di http://malamkemarau.blogspot.com, dan biografi fiksinya dapat dibaca di http://blackuniverse.tumblr.com.

Foto oleh Festi Noverini