Tujuh Puisi oleh Edo Wallad

aku terus berharap bisa menulis seperti kerouac

aku terus berharap bisa menulis seperti kerouac
atau setidaknya kelihatan menarik hanya dengan kaos putih
seperti dia…
jalanan kampung bali, cikini, dan gemerlap lampu kemang sudah kulalap
agar bisa merasakan brooklyn, broadway, dan fifth avenue
lalu terbang ke bali untuk sekelebat california

aku terus berharap bisa menulis seperti kerouac
lalu hidup dengan seorang perempuan penulis muda
berteman dengan sekawanan pemegang pena
tetap gaya, tanpa harus di bilang nyentrik seperti burung merak

aku terus berharap bisa menulis seperti kerouac
walau aku belum tahu pasti tulisannya seperti apa
yang penting kelihatan pintar
seperti hipster polit menggenggam camus

aku terus berharap bisa menulis seperti kerouac
atau setidaknya menjalani kehidupan
seperti dia

when i talk about Japan and Top Gun bar

Kita tidak pernah basuo
Cuma tulisan sok mestizo
Dan ternyata kau ke disco
Untuk fly away dengan Tiesto

Kau bukan pengidap schizophrenia
Tak seperti Akutagawa
Meloncat seperti kappa
Rashomon yang ditangkap Kurosawa

Kalau being bitchy
Sekedar mencari identity
It’s no fun
Tidak seperti bar Top Gun

Hey, you’ve got to get rid off those body fat and get laid
and get paid…
(maybe)

orgy pamflet

di pembatas jalan itu
seniman beladiri brasilia
tindih babysitter
badut sulap 3 in 1 dengan penebang pohon dan bu gito
lalu…
sedot tinja onani sendiri
di tiang listrik

seperti balon helium kosong

catch and release itu gelembung
lalu tangkap
seperti balon udara
kosong namun penuh helium
kelamin yang saling mencium
tanpa menyentuh

lalu kita bisa tenang
setelah chaos meledak

dor!

aku ingin tersesat di labirinmu

lalu berusaha
menemukan jalan keluar sendiri
sambil menguliti
lapisanlapisan
membungkus seperti lontong

sampai akhirnya

kita bugil!

Jakarta Dua Ratus Lima Puluh Rupiah

setiap dua ratus lima puluh rupiah adalah detik-detik kamu
hanya menatap kosong
ketika kugenggam tanganmu
(hawa duapuluh derajat turun perlahan seiring kilometer bertambah)
Jakarta adalah Selatan yang Pusat
Utara yang Selatan dan Barat yang sedikit Pusat
“utarakan ke Selatan”, kata mereka yang berada di Selatan-nya Selatan*
lalu kamu masih menatap kosong
mungkin sedikit berkeringat
seratus empatpuluh tiga langkah menyisir Kebon Kacang
hatiku kini yang berkeringat
teringat kamu yang pernah membuatku hampir muntah
seakan-akan pecah
seratus limapuluh satu langkah pulang
delapan langkah lebih banyak karena aku berjalan sambil mengenangmu
sebelum kucegat taksi di Bunderan H.I.
setiap dua ratus lima puluh rupiah berikutnya adalah detik-detik aku

*mengacu pada lirik lagu “Utara Kan ke Selatan” dari band MySecretIdentity

perempuan datang*

Perempuan datang
Bersama bau buku bekas
Kaos burung kenari
Rompi robusta

Aku merasa canggung
Ingin berkubang saja
Di genangan Miyazaki

Perempuan datang lagi
Di delima ranum
Mengacak sepiring lemak yang nasi
Kehabisan kata
Usai cerita

Perempuan tetap datang
Menunggu di singgasana permaisuri
Kuterkam dari belakang
Lalu kugenggam di dapur ibukota

Tapi dia benarbenar datang
Di bus antar kota
Saat puasa
Kuakhiri dengan sebotol teh kemasan

Aku ingin merekam dia
Lalu kuputar ulang
Seumur hidupku
Terus

*”Perempuan datang” pernah dipakai di dalam puisi Rangga untuk Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta

Carpenter Kim*

istriku dan tukang kayu bersepatu bot
bertemu dua kali seminggu
ketika semua sudah lelah
menahan amarah dan susah

sesekali istriku tersenyum
memunggungi aku,
waktu tukang kayu datang dengan truk merah

aku mengintip…
memeluk dari belakang
mengusap perutnya

kami tertidur dengan laptop menyala
sampai subuh terlewat

*karakter dari drama Korea “Valid Love”

Edo Wallad adalah seorang penulis yang tinggal di Jakarta. Pernah jadi editor di beberapa majalah seperti a+, soap, dan market+. Puisinya pernah masuk buku antologi puisi Dian Sastro for President! #2: Reloaded (Bentang Budaya dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2003) dan Antologi Puisi Bungamatahari (Avatar Press, 2005). Pernah jadi kolomnis tetap di majalah area, dan jadi kontributor di majalah Juice, Nylon, dan Gadis. Sekarang tulisannya dapat dibaca di majalah Dewi, jurnal Pop Teori dan blog pribadinya.

Foto oleh T’Naar Kristian Julian