Wawancara | Ratri Ninditya

Processed with VSCOcam with j4 preset

 

Ratri Ninditya baru pindah ke sebuah rumah mungil di Bogor dari apartemen mungil di Kalibata City. Sementara menunggu PAM dipasang, ia mudik kembali ke rumah orang tuanya yang luas dan hijau di Gandul. Tempat menjadi elemen yang penting dalam puisi-puisi Ratri (panggil dia Ninin saja), kadang sebagai sesuatu yang mencekik, kadang sesuatu yang membebaskan. Itu sebabnya di Selatan edisi kali ini, ia juga menerjemahkan puisi penyair Denmark Martin Glaz Serup yang berjudul Lapangan—tentang tempat yang bisa menjadi “frame” dari sebuah suasana (bentuk lapangan bisa mirip selembar foto, atau pigura).

Wawancara Selatan dengan Ninin dilakukan tiga kali lewat email dalam kurun waktu hampir dua tahun. Pertanyaan-pertanyaannya diambil (dengan sedikit modifikasi) dari pertanyaan-pertanyaan seri wawancara Paris Review. Ninin meminta untuk merevisi jawabannya dua kali—agar sinkron dengan progres evolusi puisi-puisinya yang pesat akhir-akhir ini.

 

S: Menurutmu, apakah seorang penyair melihat dunia sekitarnya dengan sudut pandang yang sedikit berbeda?

 

N: Pandangan kita sama dunia ini terbatas sekali karena ada banyak racunnya. Televisi, selebriti, Disney, Amerika, beberapa di antaranya bikin kita makan dan minum dengan cara yang sama, pake baju dengan cara yang sama, punya mimpi yang sama. Cuman emang ada orang-orang tertentu yang bisa mendetoksifikasi dirinya kemudian memecah dunia ini jadi banyak lapisan dan banyak perasaan dalam waktu bersamaan, lalu mengekspresikannya dalam berbagai bentuk, bisa tulisan, gambar, gambar bergerak, dan lainnya. Dan sebenarnya dunia ini memang begitu, cuman banyak orang gak nyadar atau lupa aja. Jadi ketika karyanya diinterpretasi, orang bereaksi, “Oh, iya juga ya!” dan karyanya itu jadi bermakna banget buat sekelompok orang, mungkin besar, mungkin kecil, mungkin mikroskopis (kayak 3 orang di dunia doang yang ngerti).

 

S: Siapa saja penulis yang membuatmu pertama kali ingin menulis juga?

 

N: Klise sih, tapi nyokap adalah orang pertama yang gue inget yang meyakinkan gue kalau gue bisa menulis. Dulu waktu kecil dia biasa duduk di depan meja komputer di rumah terus marah-marah karena karyawannya gak bisa menulis surat sederhana dengan struktur bahasa Indonesia yang benar. Lalu gue berpikir, gue gak mau jadi orang yang gak bisa menulis bahasanya sendiri dengan benar. Jadi gue mulai meratiin pelajaran bahasa indonesia. Dulu karena doi kerja sampai malam jadi waktu ketemunya cuman bentar, lalu sebelum gue tidur dia akan bacain buku-buku yang tulisannya panjang dan gue belum bisa baca sendiri. Makin gede buku yang dibeliin makin banyak.

Gue inget dulu punya seri Tini dan blablabla. Gue suka cerita dan wajah si Tini yang melankolis. Dia juga suka banget beliin Dr.Seuss. Gue selalu ketawa tiap kita sama-sama baca cepat tulisannya itu, terutama yang tweetle beetle battle (gue lupa euy judulnya). Bunyinya lucu kayaknya. Waktu agak gede gue mulai baca tetraloginya Pramoedya. Gue suka karena seperti baca sejarah versi alternatif dan lebih seru dari yang gue baca di sekolah. Terus waktu SD kelas 6 gue bosen baca cerita detektif (Hawkeye dan siapa tuh namanya yang kita harus cari solusinya terus cluenya ditulis terbalik di halaman belakang harus dibaca pake cermin), lalu nyolong baca Saman, abis baca keringet dingin (later in life gue baca lagi dan bisa menertawakan kepretensiannya). Terus pas SMP gue baca all the cheesy stuff seperti Mira W. sama Sweet Valley dan Harry Potter.

 

S: Kapan kamu mulai menulis?

 

N: Gue selalu percaya gue bisa menulis dari kecil tapi rasanya sih gak pernah benar-benar menghasilkan sesuatu yang secara sadar disebut “tulisan” sampai gue mulai menulis puisi di akhir-akhir masa kuliah. Sebelumnya gue biasa nulis diary, dari kelas 1 SD dulu kita disuruh nulis jurnal tiap hari di sekolah, terus dikumpulin ke guru. Gue pernah nulis tentang ngaben 6 halaman. Gurunya kaget soalnya gue hampir gak pernah ngomong di sekolah. Lalu kelas 4 SD tulisan gue dimuat di buku tahunan (di halaman depan) bangganya setengah mati secara gue underdog di sekolah. Lalu mulai tren cerpen deh, yang di majalah-majalah ABG kayak Gadis. Gue pengen menulis cerpen, tapi gak pernah selesai. Akhirnya gue menulis diary lagi secara gak teratur sampai gue nemu blog. Lalu gue nulis catatan harian gue di blog. Lalu blog itu ketahuan seorang cowok dan gue malu (emang gue guoblog karena kalo nulis blog itu pasti akan ada orang yang bisa buka). Pas kuliah gue suka nulis sok berat gitu. Mungkin bentuknya udah gak catatan harian lagi tapi lebih ke pikiran-pikiran gue tentang tuhan dan orang-orang di sekitar gue. Baru deh, setelah tau BUMA (telat banget taunya ke mana aja gue) akhirnya menemukan bahwa ternyata puisi bisa jadi salah satu bentuk tulisan yang cocok buat gue.

 

S: Bagaimana caranya kamu menemukan “suara”-mu sendiri?  

 

N: Kayaknya beberapa hal di dunia membuat kita tergugah karena beresonansi sama apa yang terkubur di dalam diri kita. Awalnya mungkin gue mulai dengan mencari kesadaran itu walaupun membaca diri sendiri itu hal yang paling susah gue lakukan. Ada satu masa gue suka banget sama yang gory-gory. Lalu gue memutuskan untuk menulis hal-hal gory. Lalu entah kenapa (mungkin pekerjaan sebagai anak ahensi), gue mulai suka tulisan yang berbau konsumtivisme kota atau mimpi besar Amerikiyin. Gue merasa perasaan yang bercampur saat gue buang duit itu menarik, dan itu jadi catetan yang jujur akan hidup gue sebagai warga kota.

Sejujurnya sulit nemuin suara sendiri di tengah influence yang kuat-kuat banget di sekitar. Yang ngebantu gue sih klise aja yak, nelanjangin diri di tulisan. Karena kan masalah yang dihadapin orang dan cara ngadepinnya beda-beda. Mencoba jujur dan membuka senses selebar mungkin bantu gue untuk nemuin suara itu pelan-pelan.

 

S: Apakah ini proses yang panjang dan terjadi sedikit-sedikit?

 

N: Panjang amat ampe metong, semoga.

 

S: Bagaimana puisi ditulis/muncul idenya? Apa kamu sudah menyimpannya di kepala untuk waktu yang lama?

 

N: Gue gak pernah bisa mengendapkan sesuatu terlalu lama, sayangnya. Jadi semua tulisan gue terasa mentah dan tak terarah. Puisi gue kebanyakan kayak blurbs, ketemunya kalo lagi naik ojek terus macet, lagi jalan sendirian di sebuah sudut di kota, lagi kesal sama sesuatu, atau lagi mandek ide di kantor, pokoknya kalo mood dan situasi lagi pas racikannya. Cuman setelah baca-baca lagi puisi yang gue tulis, ternyata ada beberapa hal yang gak sadar keluar karena bawah sadar gue udah punya perasaan tertentu sama hal itu sejak lama. Jadi awalnya maksudnya a, abis itu eh ternyata dia b c d e f ding! Untuk kasus puisi-puisi Oulipo ngendapnya karena belum cukup materi hahahaha.

 

S: Bagaimana sebenarnya kamu menulis puisimu? Alat-alat/senjatamu apa saja?

 

N: Senjatanya mengumpulkan kemarahan atau mengurung diri sendirian di rumah dalam waktu lebih dari 24 jam. Kalo lagi marah banget biasanya cepet jadinya. contoh: lagi disuruh lembur tanpa alasan jelas, ato ngomong tentang orang yang impossible banget to deal with. Tapi mungkin karena itu sesuatu yang instan gue gak pernah sengaja menjadikan itu senjata. Sekarang gue lebih menjadikan puisi itu senjata buat menghadapi berbagai perasaan/masalah terutama yang terpendam.

 

S: Kenapa kamu mulai menulis puisi?

 

N: Satu, karena kaliaaaaannn! Dua, karena gue merasa puisi bisa jadi cara untuk gue terus menulis dan merasakan dunia ini melalui lebih banyak lapisan. Di puisi ada misteri di balik simpelnya kata, kalimat, baris. Gue suka sama misteri itu. Gue cuma bisa meledak gitu di puisi. Dan gue bisa sebebas mungkin ngapain aja tanpa mikirin plot, bentuk, struktur. Si puisi bantu gue mengakses benang-benang kusut di dalem dan mengurainya satu-satu. Si puisi itu sebenernya masih bentuk dari diary gue yang dulu aja sih. Rekaman hidup dan perasaan dan segala yang gue hadapi dan alami. Itu aja.

 

S: Setiap kali kamu membaca sajak klasik dari penyair besar, apa yang kamu lakukan pertama kali, mencoba cari tahu bagaimana kira-kira sajak itu ditulis, atau kamu lebih senang menikmati efeknya ke perasaanmu?

 

N: Banyak penyair memang jadi menarik karena kisah hidupnya yah. Tapi gue lebih senang sama perasaan yang ditimbulkan karena baca lalu nebak sendiri penulisnya kira-kira merasakan hal yang sama seperti gue atau malah lebih fucked up lagi.

 

S: Siapa pengaruhmu terbesar dalam menulis puisi?

 

N: Yang paling utama sih teman-teman (kalian). Tapi, di luar itu mungkin banyak penulis novel/cerpen/film yang justru berpengaruh.

 

S: Waktu kamu masih kecil, kamu terserang DPA (Depresi Pada Anak) nggak?

 

N: Kayaknya gak separah ampe disebut depresi tapi masa-masa gue sekolah di sekolah swasta borju itu memang bikin gue agak tertekan. Sampai kelas 2 SD gue gak mau ngomong di sekolah. Gue ngerasa overwhelmed sama orang asing. Kayak mereka semua nunggu gue ngomong untuk diketawain. Jadinya semua orang cuma nganggep gue setengah ada aja (kayak pemeran pembantu di film gitu). Setiap hari sekolah gue cuman mikir siapa ya yang nyapa gue pagi-pagi hari ini. Tiap ulang tahun berangkat sekolah mikir, siapa ya yang inget ulang tahun gue hari ini. Nggak mau diinget juga sih karena gue ogah semua mata lihat gue gitu. Tiap makan siang mikir, hari ini gue dapat duduk di ‘Meja Itu’ di kantin gak ya (meja yang didudukin sama inner circle geng gaul sekolah itu). Yang bikin lebih tertekan, masak emak gue lebih terkenal daripada gue waktu itu. Semua bilang, “Ih nyokap lo asik banget sih”.

 

S: Waktu kecil, kenapa kamu mulai menulis?

 

M: Waktu kecil gue lebih banyak menulis untuk diri gue sendiri. Gue senang menyimpan atau menciptakan rahasia ternyata. Dan rahasia itu harus direkam. Kalau gak direkam nanti dia hilang sebelum gue mati, dan kayaknya itu sesuatu hal yang disayangkan. Kalau dia terlupakan nanti namanya bukan rahasia lagi. Ketika harus menulis untuk orang lain, tujuan gue sebenarnya pengen juga nunjukkin ke orang-orang kalo gue tuh punya pikiran juga loh walopun gue pendiem, tapi pikiran itu mungkin sedikit sekali yang sampai. Jadi gue tetap jadi bagian dari The Mutes kayaknya waktu kecil.

 

S: Ada nggak pengalaman masa kecil yang menurutmu ikut membentuk dirimu jadi penyair yang sekarang ini?

 

N: Nggak ada yang spesifik. Trauma berada di tengah-tengah the elites aja dan tenggelam di dalamnya.

 

S: Buku apa yang kamu baca waktu SMA/U atau kuliah yang masih kamu ingat terus sampai sekarang?

 

N: Tetralogi Burunya Pramoedya, sekarang inget. Dulu gue cinta banget sama karakter Nyai Ontosoroh.

 

S: Menurutmu, apakah kenikmatan menulis ada hubungannya dengan “sense of control”/ke-OCD-an yang diberikan oleh “seni” itu sendiri?

 

N: Betul juga tuh. Mungkin karena hidup gue agak di luar kontrol gue jadi pengen punya kontrol at least di sesuatu yang gue bikin buat diri gue sendiri. Dalam puisi yang gue tulis itu gue tuhannya, gue yang susun semua seperti yang gue inginkan, kalau gak bisa marah, gue bisa marah banget di situ, kalau gak bisa sedih pun begitu, kalo gue mau hancurkan kota ini juga bisa di situ. Sense of control-nya itu losing control gitu yah.

 

S: Apakah kamu suka aspek kesendirian dalam menulis, atau mungkin sebenarnya kamu lebih senang kalau proses menulis lebih kolaboratif?

 

N: Minder ah kalo kolaboratif, minder dan kompetitif at the same time dan kayaknya gue gak sanggup menghadapi terlalu banyak gelombang dalam waktu bersamaan! (drama) Di kerjaan proses penulisan gue adalah kolaborasi, kayaknya kalo di luar itu gue lebih suka sendiri, kalo nggak soalnya nanti berasa kayak kerja dan bakal ada lebih banyak racunnya kayak berusaha pleasing orang lain, berusaha menampilkan sesuatu yang gak jujur, jualan banget, de es be.

 

S: Beberapa artiste sepertinya sangat terobsesi menciptakan sesuatu yang bakal jadi abadi, itu jadi ultimate goal mereka, lebih dari gol-gol yang lain. “Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi” (@gm_gm), sepertinya line yang penting banget buat banyak artiste. Kalau buat kamu?

 

N: Gue gak terlalu mengerti konteks quote doi karena baru denger juga. Tapi, ngomongin abadi, abadi menurut siapa? Proses mengabadikan itu baunya politis sekali. Kalo pun abadi gue gak akan tau karena udah keburu mati. Tulisan gue memang sampai sekarang berupa catatan hidup dan rahasia dan perasaan, buat dibaca di kemudian hari sepanjang gue hidup aja sih. Mungkin basis pemikiran GM sama seperti gue, kita bisa jadi tuhan-tuhanan. Tapi gue lebih senang menciptakan dunia-dunia kecil sih daripada mengabadikan dunia besar versi GM yang memang sudah ada. Lagian, gimana bisa jadi abadi kalo tulisan yang sama bisa dibaca berbeda tiap kali. Justru impermanence dalam puisi yang keren kan. Mono no aware! Wabi sabi!

 

S: Waktu menulis, kamu memikirkan tentang pembacamu nggak?

 

N: Gue lebih memikirkan bagaimana supaya apa yang gue tulis bener-bener merepresentasi situasi/kejadian/perasaan yang emang pengen gue salurkan ke situ. Nggak ada pretensi.

 

S: Perkembangan macam apa yang kamu harapkan dalam karya-karyamu di tahun-tahun mendatang?

 

N: Gue mau lepas dari topik-topik utama yg selama ini gue tulis! Bosen gilak nulis tentang gak punya duit dan ignorant Jakartans. Gue mau lebih mikirin konsep daripada kemarahan-kemarahan, gimana gue mampu memecahkan struktur puisi yang bikin gue stuck. Mungkin lucu juga upaya untuk ngilangin subjektivitas dari tulisan, akan jadi apa ya puisi itu?Gue mau mulai untuk lebih self-aware sih dalam tulisan-tulisan gue. Pengen bener-bener ngerti kenapa gue nulis kayak gitu, kenapa gue milih situasi anu, kombinasi kata itu, dll.

 

S:  Sepertinya begitu seorang artiste jadi established/mainstream, orang lain—kritikus, groupies—berharap dia bakal selalu menghasilkan karya yang sama, bukan berkembang sesuai keinginannya sendiri. Dalam kasusmu bagaimana?

 

N: Gue nggak paham dunia itu. Yang pasti gue sih nggak mau sama terus yah. Enak juga berada di luar dunia itu karena sampe sekarang gak ada satupun yang menuntut gue untuk begini dan begitu.

 

S:  Menurutmu, pas seorang penulis serius jadi makin dewasa, apakah yang dia lakukan sebenarnya hanya terus mengembangkan tema-tema yang sudah dari dulu dia punya?

 

N: Gak salah juga sih dengan mengembangkan tema-tema lama. Gue gak punya contoh spesifik di kepala sih tapi kan banyak karya-karya penulis sebelum terkenal malah lebih menarik karena karya lamanya kerasa lebih orisinil karena mentah banget. Tapi kayaknya proses itu beda-beda buat tiap orang deh. Tergantung sama obstacle apa yang dia hadapi selama hidup atau gede kecilnya trauma masa kecil, kayaknya bisa banget seorang penyair ganti tema yang sama sekali lain dengan yang dia bikin sebelumnya. Perubahan fase hidup kayaknya bisa jadi trigger perubahan tema tuh, kayak dari single ke menikah.

 

S:  Apakah kamu suka menggoda atau mempermainkan pembaca?

 

N: Mencoba melawak pernah. Tapi aku orangnya nggak lucu.

 

S:  Tolong ceritakan sedikit tentang BuMa—apa kalian ketemuan secara teratur? Apa kalian punya plot untuk menggulingkan penguasa politik sastra Indonesia?

 

N: Gak teratur tapi sering. Gue rasa kita perlu bangetlah ngasih wacana tandingan ke mereka bahwa puisi harusnya bener-bener mencerminkan kenyataan dibanding sekedar jungkir balik kata-kata.

 

S: Puisi-puisi anak BuMa sering dark dan depressive. Di mana peran kebahagiaan dalam karya-karya kalian?

 

N: Kutipan dari drako [drama korea—Red.] kesayangan gue semalem: bahagia bisa dirasakan dalam kebencian. Gue merasa semua kemarahan dan keresahan dan kesedihan itu yang membangun kebahagiaan.

 

S: Menurutmu, apakah ada hubungan yang dekat antara kehidupan dan puisi?

 

N: Harus dekat banget dong. Puisi adalah kenyataan kan. Huhuy. Pengen sih bisa bikin puisi yang minim sekali subjektivitasnya, tapi bisa gak ya? Perlu gak ya di Endonesa?

 

S:  Apakah masalah “arti” atau “pesan” itu penting buatmu pas menulis?

 

N: Penting buat gue memahami diri sendiri, penting juga buat ngasih perspektif baru ke jagat masteng Endonesa kalo puisi gak sekedar bahas syahwat pake metafora kembang dan lebah madu tapi bahas kehidupan nyata yang banyak dimensinya.

 

S: Jadi, buatmu sendiri, apakah sebuah sajak itu obyek yang berdiri sendiri atau semacam “clue” ke sebuah “abstraction”, ke sesuatu di luar dirinya sendiri?

 

N: Kalo objek yang punya hubungan erat dengan lingkungan sekitarnya itu masuk mana? Semacam clue ke sebuah kenyataan gitu, bahkan kenyataan itu sendiri.

 

S: Kamu sukanya menulis di PC atau di smartphone?

 

N: Gue suka yang lebih instan dan cepat jadi, jadi tergantung gue lagi di mana, yang lebih dekat sama gue posisinya yang mana.

 

S: Kamu punya nggak ritual-ritual buat menulis?

 

N: Apa ya misalnya boker gitu? Nggak pernah tetap. Biasanya nulis karena udah mau meledak.

 

S: Apakah kamu sering merevisi sajak-sajakmu?

 

N: Sekarang mulai sering. Soalnya mulai muncul keinginan untuk lebih serius lagi sama perpuisian. Kalo menemukan kepura-puraan atau obscurity yang dipaksakan gue akan ganti. Sebaliknya kalau keliatannya puisi itu nggak aware sama dirinya sendiri gue tweak supaya lebih mbulet.

 

S: Apa yang biasanya memancingmu untuk menulis sebuah sajak? Ide? Imaji? Irama? Situasi? Kejadian? Sepotong kalimat? Atau apa?

 

N: Bisa semuanya. Tapi lebih sering kalau lagi marah, atau lagi tenang banget, atau merasa menyedihkan banget.

 

S: Buatmu sendiri, puisi itu ada di mana saja? Apa sih satu hal khusus yang menurutmu membuat sesuatu jadi puitis?

 

N: Di hal-hal mundane setiap hari. tangan-tangan yang pegangan di busway, taman kecil gue di rumah, perut, ketek, ubun-ubun, apalah semua yang biasa-biasa aja yang kita lihat tiap hari.

 

S: Apa pendapatmu tentang kritik terhadap karya-karyamu selama ini?

 

N: Sumpah gue berharap banget ada lebih banyak orang di dunia ini yang sepeduli itu untuk mengkritik tulisan gue. Selama ini gue lebih banyak mengkritik diri sendiri sih. Dari situ, gue berkesimpulan gue harus lebih banyak bereksperimen sama gaya nulis, sama tema baru. Gue gak pernah menganggap puisi itu sesuatu yang serius buat gue sampai baru-baru ini. Sekarang gue nyadar mungkin itu hal yang paling penting dalam hidup gue.

Gue pernah sih dikritik orang, lebih tepatnya dihina tanpa argumen yang jelas. Dan menurut gue orang-orang kayak gitu udah keracunan tingkat akut aja sih. Misalnya dia benar-benar suka puisi, harusnya dia bisa mengkritik gue dengan argumen, jadi gue bisa belajar juga dan dunia perpuisian ini akan berkembang lebih sehat (mimpi). Ini adanya dikritik gue sebagai orang yang bukan siapa-siapa, bukan dikritik karyanya. Sayang banget yah banyak orang lebih tertarik sama siapa penulisnya dibanding apa yang ditulis. Akan jadi satu arah banget pergerakan dunia perpuisian kalo kayak gitu.

 

S: Oke pertanyaan terakhir, sebenarnya mungkin beberapa poinnya sudah disinggung di atas. Apollinaire pernah bilang “Apapun yang terjadi, kesenian makin lama makin tidak bisa dipisahkan dari negeri asalnya.” Menurutmu gimana? Dalam konteks dunia yang makin global abal-abal kayak gini?

 

N: Setuju sama Apollinaire. Kan puisi adalah kenyataan hahaha. Puisi lahir dari kehidupan sehari-hari, jadi tempat tinggal pastinya kasih pengaruh besar. Karena gue lama tinggal di rusunami, gue nulis kayak gini. Pengaruh rusunaminya jelas banget ada di puisi gue sih tampaknya. Bahkan bentuk puisi gue banyak yang paragraf panjang gitu mungkin karena kesempitan di Kelesbata. Gak bisa napas.

 

 

 

Foto oleh Michelle Oktaviani
Iklan