Wawancara | Yoshi Febrianto

selatan yoshi profile 1

 

Yoshi Febrianto tinggal di Ciputat kemudian di Cipete, Jakarta Selatan. Ia seorang seniman serbaneka. Selain menulis puisi ia juga seorang multiinstrumentalis, seniman video (salah satu video “found poetry”-nya pernah ikut pameran OK. Video), dan fotografer. Puisi-puisi Yoshi sering berlatar tempat yang familiar (Senayan, Kuningan, Prambanan), namun selalu mampu menangkap hal-hal puitis yang tidak klise di situ. Seperti penyair klasik Cina, Yoshi tidak begitu senang berakrobat kata—ia lebih senang membangun sebuah realitas sendiri yang kadang surreal, kadang hiperreal, dan selalu puitis.

Wawancara dengan Selatan kali ini dilakukan melalui email memakai pertanyaan-pertanyaan yang dicontek dari wawancara-wawancara Paris Review. Yoshi menjawabnya dari Paris, New Delhi, dan Blok M Square.

 

S: Menurutmu, apakah seorang penyair melihat dunia sekitarnya dengan sudut pandang yang sedikit berbeda?

 

Y: Menurut gue, semua orang (gak hanya penyair) harus bisa melihat dunia sekitarnya dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, gak cuman duduk-datang-dengar-dicekoki-membeo. Dunia akan jadi super membosankan kalo semua orang sudut pandangnya sama. Gue jadi ingat satu stiker yang gue lihat di pinggir jalan di Tangerang,  beberapa waktu sebelum hari jatuhnya Soeharto. Gue lihat stiker bertuliskan “Perbedaan adalah Anugerah. Awas Komunisme!”

 

S: Siapa saja penulis yang membuatmu pertama kali ingin menulis juga?

 

Dalam pelajaran bahasa Indonesia yang gue dapat di salah satu SMP Katolik terkemuka di Jakarta Selatan, gue diperkenalkan kepada karya-karya Sapardi Djoko Damono. Buat gue waktu itu, karya-karya sederhana, tapi emang gak gitu mudeng maksudnya. Lalu pada periode yang sama pula berkenalan dengan lirik-lirik Nirvana dan Pearl Jam yang juga bikin gak mudeng. Tetapi kok kayaknya seru mencari arti puisi-puisi ini ataupun lirik-lirik ini. Kayaknya di situ gue mulai tertarik kepada puisi. Kemudian gue mulai berkenalan dengan puisi-puisi Rendra dan Taufik Ismail. Gue pikir, puisi kok gini amat sih, kayak harus deklamasi. Nah dari kemalasan gue mendalami puisi-puisi semacam Rendra; di sisi lain ada ketertarikan terhadap puisi; gue mulai menulis puisi. Jadi menulis puisi karena gue suka puisi, tapi gak suka sebagian besar puisi orang.

 

S: Kapan mulai menulis?

 

Y: Ya itu. Sejak SMP. Saat muncul ketertarikan terhadap puisi tapi di lain sisi ada kemalasan mendalami puisi-puisi semacam Rendra; gue mulai menulis puisi. Gue jadi ingat, dulu guru seni musik di SMP pernah meminta tugas berupa lagu ciptaan sendiri. Setiap murid disuruh ngarang lagu. Kalau gue dapat kesempatan pindah ke masa lalu sebentar saja, selain gue pengen kembali ke saat balita maen di taman; gue juga akan pengen ke saat SMP, menemukan lagu ciptaan gue yang pertama itu, dan menyimpannya baik-baik.

 

S: Bagaimana caramu menemukan “suara”-mu sendiri? Apakah ini proses yang panjang dan terjadi sedikit-sedikit?

 

Y: Di puisi yang kita tulis, ya itulah suara kita sendiri kan? Tapi memang kecenderungan gaya menulis puisi berubah seiring dengan bergeraknya waktu. Untuk sampai menemukan gaya yang nyaman untuk diri sendiri ya cara satu-satunya adalah dengan banyak latihan menulis.

 

S: Bagaimana puisi ditulis/muncul idenya? Apa kamu sudah menyimpannya di kepala untuk waktu yang lama?

 

Y: Baby oh la la la la!

 

S: Bagaimana sebenarnya kamu menulis puisi? Alat-alat/senjatamu apa saja?

 

Y: Puisi gue selalu muncul saat melamun tanpa diniatin bikin. Kalau sok mencari-cari malah tidak ketemu. Perlengkapan utama untuk menulis puisi adalah buku catatan kecil yang selalu gue bawa kemana-mana. Kalau lagi ngaso atau iseng ternyata menemukan sesuatu yang gue anggap menarik, gue langsung dapat mencatatnya di buku tersebut. Kalau saat lagi gak bawa buku, kita bisa mencatatnya di telepon. Biasanya kemudian puisi-puisi yang gue tulis itu berangkat dari hal-hal yang gue tuliskan tadi.

 

S: Pada saat-saat apa saja kamu akan mulai menulis puisi?

 

Y: Gue mulai menulis puisi saat ada hal-hal yang kita ingin jelaskan, atau pas mendapatkan informasi yang ada.

 

S: Setiap kali membaca sajak klasik dari penyair besar, apa yang kamu lakukan pertama kali, mencoba cari tahu bagaimana kira-kira sajak itu ditulis, atau lebih senang menikmati efeknya ke perasaanmu?

 

Y: Membaca ya membaca lah. Yang dicari dari sebuah pembacaan adalah apa yang dihasilkan dari sebuah pembacaan dan perasaan apa yang timbul dari pembacaan tersebut.

 

S: Siapa pengaruhmu terbesar dalam menulis puisi?

 

Penyair ya? Teman-teman Komunitas BungaMatahari.

 

S: Ada nggak pengalaman masa kecil yang menurutmu ikut membentuk dirimu jadi penyair yang sekarang ini?

 

Y: Semua pengalaman yang telah gue lalui yang membentuk saya dan karya-karya saya saat ini. Tapi gue gak ingat sesuatu yang spesifik.

 

S: Buku apa yang kamu baca waktu SMA/U atau kuliah yang masih kamu ingat terus sampai sekarang?

 

Y: Buku? Kalau prosa, gue inget Projo dan Brojo karya Arswendo Atmowiloto. Kalau buku puisi, saya gak ingat sesuatu yang sangat spesifik.

 

S: Menurutmu, apakah kenikmatan menulis ada hubungannya dengan “sense of control”/ke-OCD-an yang diberikan oleh “seni” itu sendiri?

 

Bisa iya bisa tidak. Dalam menulis puisi, kadang-kadang kita ingin sesuatu yang sangat teratur di saat lain kita ingin kekacauan.

 

S: Apakah kamu suka aspek kesendirian dalam menulis, atau mungkin sebenarnya kamu lebih senang kalau proses menulis lebih kolaboratif?

 

Y: Tentunya, aspek sendiri, personal adalah hal yang sangat penting dalam penulisan puisi. Namun pada saat-saat tertentu, proses penulisan kolaboratif bisa jadi sesuatu yang juga seru dan menarik sebagai ajang latihan.

 

S: Beberapa artiste sepertinya sangat terobsesi menciptakan sesuatu yang bakal jadi abadi, itu jadi ultimate goal mereka, lebih dari gol-gol yang lain. “Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi” (@gm_gm), sepertinya line yang penting banget buat banyak artiste. Kalau buatmu?

 

Y: GM adalah sesuatu yang sangat utama, apalagi bakmi spesial GM jamur. Tentang usaha membuat sesuatu abadi? Yang abadi adalah kefanaan.

 

S: Waktu menulis, kamu memikirkan tentang pembacamu nggak?

 

Y: Selalu. Jarang yang tidak. Karena puisi adalah sebuah usaha untuk menyampaikan sesuatu. Kadang-kadang sebuah puisi yang telah ‘selesai’ gue ubah karena kok seperti ngomong sendirian. Kadang-kadang memang hanya ngomong sendirian sih.

 

S: Perkembangan macam apa yang kamu harapkan dalam karya-karyamu di tahun-tahun mendatang?

 

Y: Perkembangan yang membangun. Karya-karya yang bermanfaat dan berdistribusi luas, seperti lirik-lirik lagu presiden (2004-2014).

 

S: Menurutmu, pas seorang penulis serius jadi makin dewasa, apakah yang dia lakukan sebenarnya hanya terus mengembangkan tema-tema yang sudah dari dulu dia punya?

 

Y: Bisa jadi gitu. Masing-masing orang punya masalah dan minatnya sendiri-sendiri. Ada saat-saat seorang penulis yang terus eksplorasi kemudian sadar bahwa pencariannya tak berujung, dan dia harus kembali ke titik-titik di mana dia melakukan hal terbaik yang dia dapat lakukan.

 

S: Kenapa kebahagiaan konvensional langka sekali dalam karya-karya kalian?

 

Y: Ah kamu bisa aja. Kebahagiaan itu adalah ngebir bareng teman-teman tersayang; ngopi bareng teman-teman yang berpikiran terbuka, dan tidur bareng kekasih tercinta.

 

S: Apakah kamu suka menggoda atau mempermainkan pembaca?

 

Y: Daripada mempermainkan pembaca, saya lebih suka mempermainkan pengendara motor ugal-ugalan yang minta digampar.

 

S: Tolong ceritakan sedikit tentang BuMa—apa kalian ketemuan secara teratur? Apa kalian punya plot untuk menggulingkan penguasa politik sastra Indonesia?

 

Y: BuMa adalah sekumpulan orang yang suka saling mempermainkan. Plot? Kayaknya nggak ada. Tapi sebuah rezim akan turun lapuk dimakan zaman pada satu titik sepertinya.

 

S: Menurutmu, apakah ada hubungan yang dekat antara kehidupan, kenyataan, dan puisi?

 

Y: Ada. Ada dong. Atau ada deh.

 

S: Apakah masalah “arti” atau “pesan” itu penting buatmu pas menulis?

 

Y: Karena puisi adalah sebuah usaha untuk menyampaikan sesuatu, tentunya arti dan pesan itu sangat penting.

 

S: Jadi, buatmu sendiri, apakah sebuah sajak itu obyek yang berdiri sendiri atau semacam “clue” ke sebuah “abstraction”, ke sesuatu di luar dirinya sendiri?

 

Y: Bisa ini dan bisa itu. Sangat membosankanlah kalau semuanya begini atau semuanya begitu.

 

S: Kamu sukanya menulis di PC atau di smartphone?

 

Y: Tidak di PC, maupun smartphone. Saya suka menulis di laptop.

 

S: Kamu punya nggak ritual-ritual buat menulis?

 

Y: Dulu saya suka mutih sebelum menulis puisi, namun sekarang sudah tidak lagi.

 

S: Apakah kamu sering merevisi sajak-sajakmu?

 

Y: Kadang-kadang saya membuat versi baru dari sebuah puisi.

 

S: Apa yang biasanya memancingmu untuk menulis sebuah sajak? Ide? Imaji? Irama? Situasi? Kejadian? Sepotong kalimat? Atau apa?

 

Y: Yang biasanya memancing gue untuk menulis sebuah sajak adalah: Ide, Imaji, Irama, Situasi, Kejadian, Sepotong Kalimat, atau apapun in-between.

 

S: Buatmu sendiri, puisi itu ada di mana saja? Apa sih satu hal khusus yang menurutmu membuat sesuatu jadi puitis?

 

Y: Puisi itu bukan tentang sesuatu,  tapi tentang bagaimana melihat sesuatu. Jika kamu sedang bosan dan merasa tidak dapat melihat apapun, cobalah melihat dari kacamata 3D atau kacamata kuda.

 

S: Apa pendapatmu tentang kritik terhadap karya-karyamu selama ini?

 

Y: Kasih tahu nggak ya.

 

 

 

Foto oleh Yoshi Febrianto