Tentang Selatan

Bagaimana sebuah tempat mempengaruhi orang-orang yang tinggal, kerja, tidur, bangun, makan, tidur lagi di dalamnya? Dan sejauh manakah mereka menyadari, menggunakan, atau menyangkal pengaruh tempat tersebut di dalam hidup mereka? Ketika semakin banyak orang merasa menjadi bagian atau justru tersisihkan dari orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai warga dunia, ketika batas-batas geografis menjadi semakin kabur, kampung halaman terasa asing, dan rumah tidak lagi dibangun di tanah kelahiran mereka, “tempat”—ironisnya—justru jadi sesuatu yang makin penting untuk diselidiki.

Selatan adalah kumpulan rekaman pengalaman, pemikiran, dan perasaan orang-orang tentang kenyataan sehari-hari yang mereka alami di tempat mereka tinggal, yang terpukau atau justru membenci kehidupan di tempat tersebut, atau gabungan keduanya di saat yang bersamaan maupun berganti-ganti. Selatan ingin melihat bagaimana mereka memandang lokasi tersebut dari dalam maupun luar, dan bagaimana mereka memandang diri mereka dan relasi yang mereka miliki dengan tempat tersebut, apakah akrab atau malah bermasalah. Terbit dua kali dalam setahun, di Musim Hujan dan Musim Kemarau, Selatan berharap keinginan tadi akan memancing dan memberikan ruang bagi ekspresi kreatif yang beragam dari sejumlah seniman dengan latar belakang budaya dan tempat tinggal yang berbeda-beda.

“C’est pourquoi je pense que, quoi qu’il arrive, l’art, de plus en plus, aura une patrie…. L’art ne cessera d’être national que le jour où l’univers entier vivant sous un même climat, dans des demeures bâties sur le même modèle, parlera la même langue avec le même accent, c’est-à-dire jamais.

Karena itulah menurutku, apapun yang terjadi, kesenian makin lama makin mempunyai tanah air…. Kesenian baru akan kehilangan asal-usulnya saat nanti seluruh semesta telah hidup dalam iklim yang sama, dalam rumah-rumah yang bergaya sama, berbicara dalam bahasa yang sama, memakai logat yang sama—dengan kata lain, hal ini tidak akan pernah terjadi.” – Apollinaire